INSPIRASI besar memang bisa datang
dari mana saja, termasuk dari film animasi untuk anak-anak. Anda mungkin tak
pernah mengira, sebuah film anime Jepang ternyata bisa mengilhami penemuan
penting yang merevolusi anggapan tak terpatahkan di jagat transmisi telekomunikasi
nirkabel.
Tapi cerita itulah yang terjadi pada
diri Khoirul Anwar, dosen sekaligus peneliti asal Indonesia
yang bekerja di laboratoriom Information Theory and Signal Processing, Japan
Advanced Institute of Science and Technology, di Jepang.
Saat terdesak karena harus
mengajukan tema penelitian untuk mendapatkan dana riset, Khoirul memeras
otaknya. Akhirnya ide itu muncul juga dari Dragon Ball Z, film animasi Jepang
yang kerap ia tonton.
Ketika Goku, tokoh utama Dragon Ball
Z, hendak melayangkan jurus terdahsyatnya, ‘Genki Dama’ alias Spirit Ball, Goku
akan menyerap semua energi mahluk hidup di alam, sehingga menghasilkan tenaga
yang luar biasa.
“Konsep itu saya turunkan
formula matematikanya untuk diterapkan pada penelitian saya,”
kata Khoirul, kepada VIVAnews melalui surat elektroniknya, Jumat 13 Agustus
2010.
Maka inspirasi itu kini mewujud
menjadi sebuah paper bertajuk “A Simple Turbo Equalization
for Single Carrier Block Transmission without Guard Interval.”
Khoirul memisalkan jurus Spirit Ball
Goku sebagai Turbo Equalizer (dekoder turbo) yang mampu mengumpulkan seluruh
energi dari blok transmisi yang ter-delay, maupun blok transmisi terdahulu,
untuk melenyapkan distorsi data akibat interferensi gelombang.
Asisten Profesor berusia 31 tahun
itu dapat mematahkan anggapan yang awalnya ‘tak mungkin’ di dunia
telekomunikasi. Kini sebuah sinyal yang dikirimkan secara nirkabel, tak perlu
lagi diperisai oleh guard interval (GI) untuk menjaganya kebal terhadap delay,
pantulan, dan interferensi. Turbo equalizer-lah yang akan membatalkan
interferensi sehingga receiver bisa menerima sinyal tanpa distorsi.
Dengan mengenyahkan GI, dan
memanfaatkan dekoder turbo, secara teoritis malah bisa menghilangkan rugi daya
transmisi karena tak perlu mengirimkan daya untuk GI. Hilangnya GI juga bisa
diisi oleh parity bits yang bisa digunakan untuk memperbaiki kesalahan akibat
distorsi (error correction coding).
“GI sebenarnya adalah sesuatu yang
‘tidak berguna’ di receiver selain hanya untuk menjadi pembatas. Jadi
mengirimkan power untuk sesuatu yang ‘tidak berguna’ adalah sia-sia,” kata
Khoirul.
Gagasan ini sendiri, dikerjakan
Khoirul bersama Tadashi Matsumoto, profesor utama di laboratorium tempat
Khoirul bekerja. Saat itu ia dan Tadashi hendak mengajukan proyek ke Kinki
Mobile Wireless Center.
Setelah menurunkan formula matematikanya secara konkrit, Khoirul meminta rekannya
Hui Zhou, untuk membuat programnya.
Metode ini bisa dibilang mampu
memecahkan problem transmisi nirkabel. Apalagi ia bisa diterapkan pada hampir
semua sistem telekomunikasi, termasuk GSM (2G), CDMA (3G), dan cocok untuk diterapkan
pada sistem 4G yang membutuhkan kinerja tinggi dengan tingkat kompleksitas
rendah.
Ia juga bisa diterapkan Indonesia,
terlebih di kota besar yang punya banyak gedung pencakar langit, maupun di
daerah pegunungan. Sebab di daerah tadi biasanya gelombang yang ditransmisikan
mengalami pantulan dan delay lebih panjang.
Tak heran bila temuan ini membesut
penghargaan Best Paper untuk kategori Young Scientist pada Institute of
Electrical and Electronics Engineers Vehicular Technology Conference (IEEE VTC)
2010-Spring yang digelar 16-19 Mei 2010, di Taiwan.
Kini hasil temuan yang telah
dipatenkan itu digunakan oleh sebuah perusahaan elektronik besar asal Jepang.
Bahkan teknologi ini juga tengah dijajaki oleh raksasa telekomunikasi
China, Huawei Technology.
AWAL
PENDIDIKAN KHOIRUL ANWAR
Ini bukan sukses pertama bagi
Khoirul. Pada 2006, pria asal Kediri, Jawa Timur itu juga telah menemukan cara
mengurangi daya transmisi pada sistem multicarrier seperti Orthogonal
frequency-division multiplexing (OFDM) dan Multi-carrier code division multiple
access (MC-CDMA).
Caranya yaitu dengan memperkenalkan
spreading code menggunakan Fast
Fourier Transform sehingga kompleksitasnya
menjadi sangat rendah. Dengan metode ini ia bisa mengurangi fluktuasi daya.
Maka peralatan telekomunikasi yang digunakan tidak perlu menyediakan cadangan
untuk daya yang tinggi.
Belakangan, temuan ini ia patenkan.
Teknik ini telah dipakai oleh perusahaan satelit Jepang. Dan yang juga
membuatnya membuatnya kaget, sistem 4G ternyata sangat mirip dengan temuan yang
ia patenkan itu.
Namun, putra dari pasangan
(almarhum) Sudjianto dengan Siti Patmi itu, tak pernah lupa dengan asalnya.
Hasil royalti paten pertamanya itu ia berikan untuk ibunya yang kini hidup
bertani di Kediri. “Ini adalah sebagai bentuk penghargaan saya kepada orang tua,
terutama Ibu,” katanya.
Ayah Khoirul meninggal karena sakit,
saat ia baru lulus SD pada 1990. Ibunyalah kemudian berusaha keras
menyekolahkannya, walaupun kedua orang tuanya tidak ada yang lulus SD.
Sejak kecil, Khoirul hidup dalam
kemiskinan. Tapi ada saja jalan baginya untuk terus menuntut ilmu. Misalkan,
ketika melanjutkan SMA di Kediri, tiba-tiba ada orang yang menawarkan kos
gratis untuknya.
Saat
ia meneruskan kuliah di ITB Bandung, selama 4 tahun ia selalu mendapatkan beasiswa.
“Orang tua saya tidak perlu mengirimkan uang lagi,” kata Khoirul mengenang masa
lalunya. Otaknya yang moncer terus membawa Khoirul ke pendidikan yang tinggi.
Ia mendapatkan beasiswa S2 dari
Panasonic, dan selanjutnya beasiswa S3 dari perusahaan Jepang. “Alhamdulillah,
meski saya bukan dari keluarga kaya, tetap bisa sekolah sampai S3. Saya
mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua pemberi beasiswa.” katanya.
Khoirul Anwar Tidak Lupa Indonesia
Sukses di negeri orang
tak membuatnya lupa dengan tanah kelahiran. “Suatu saat saya juga akan tetap
pulang ke Indonesia. Setelah meraih ilmu yang banyak di luar negeri,” kata
Khoirul.
Di luar kehidupannya
sebagai seorang periset, Khoirul juga mengajar dan membimbing mahasiswa master
dan doktor. Kedalaman pengetahuan agama pria yang sempat menjadi takmir masjid
di SMA-nya itu, juga membawanya sering didaulat memberi ceramah agama di
Jepang, bahkan menjadi Khatib shalat Iedul Fitri.
Tak hanya itu, Khoirul
juga kerap diundang memberikan kuliah kebudayaan Indonesia. “Keberadaaan kita
di luar negeri tak berarti kita tidak cinta Indonesia, tapi justru kita sebagai
duta Indonesia,” kata dia.
Selama mengajar kebudayaan
Indonesia, ia banyak mendengar berbagai komentar tentang tanah airnya. Ada yang
memuji Indonesia, tentu, ada pula yang menghujat. Untuk yang terakhir itu, ia
biasanya menjawab dalam bahasa Jepang: Indonesia ha mada ganbatteimasu
(Indonesia sedang berusaha dan berjuang).
Keluarga Khoirul Anwar
Kini, Khoirul tinggal
di Nomi, Ishikawa, tak jauh dari tempat kerjanya, bersama istrinya, Sri Yayu
Indriyani, dan tiga putra tercintanya. “Semua anak saya memenuhi formula deret
aritmatika dengan beda 1.5 tahun,” Khoirul menjelaskan.
Yang paling besar lahir di Kawasaki,
Yokohama, berusia 7 tahun. Yang kedua lahir di Nara berusia 5,5 tahun, dan
ketiga juga lahir di Nara, kini berusia 4 tahun. Ia tak sependapat dengan
beberapa rekan Jepangnya, yang mengatakan kehadiran keluarga justru akan
mengganggu risetnya.
Baginya keluarga banyak memberikan
inspirasi dalam menemukan ide-ide baru. “Belakangan ini saya berhasil menemukan
teknik baru dan sangat efisien untuk wireless network saat bermain dengan
anak-anak,” katanya.
Malahan, Khoirul sering mengajak
anak-anaknya melakukan riset kecil-kecilan di rumahnya. Bersama anak-anaknya
pula, Khoirul sering menyempatkan waktu menonton bersama, terutama film animasi
kegemarannya: Dragon Ball Z, Kungfu Panda, Gibli, atau Detektif Conan.
“Film animasi mengajarkan anak kita
nilai yang harus kita pahami dalam kehidupan,” kata Khoirul. Film animasi
Gibli, misalnya, banyak bercerita bagaimana seharusnya manusia bisa bersahabat
dengan alam, tidak merusaknya, serta mencintai mahluk hidup.
Bahkan ide dan semangat baru
terkadang muncul dari menonton film. Misalnya nilai kehidupan yang dia petik
dari film Kungfu Panda: ‘There is no secret ingredient,
just believe’. “Nilai ini saya artikan bahwa tidak ada rahasia
sukses, percayalah bahwa apapun yang kita kerjakan bisa membuat kita sukses.”
kata Khoirul.
(sumber: http://bio.or.id/biografi-khoirul-anwar-penemu-4g/)




No comments:
Post a Comment